Dari Kepsek Yenni Satriani Ke Panggung Seni Budaya Tingkat Asean

Poto Bersama dengan Jiban P. Ramlee Putra dari aktor Legendaris P. Ramlee

BU GURU SI IBU SAKAI TAMPIL MEMUKAU DI LENONG KONTEMPORER MAK COMBLANG DI ACARA DIALOG SENI DAN BUDAYA SE ASEAN DI PANTAI TANTRAYANA DUMAI

Nasional,”matahukum.id – Kerap dipanggil Ibu Sakai oleh sejumlah teman-teman sesama Penyair, Bu Guru Yenni Satriani menunjukkan totalitasnya memerankan Tokoh Siti si Asisten Rumah Tangga yang genit dan hobbi musik di Lenong kontemporer “Mak Comblang” di acara Dialog Seni dan Budaya se ASEAN di pantai Tantrayana Dumai.

Tampilannya yang genit sambil berjoget sangat memukau penonton dan membuat penonton terbahak dan bertepuk tangan.

Bu Guru Yenni tampil bersama Artis Ibu kota yang sudah melalang buana di perfileman Indonesia, membuat Bu Guru cantik ini banyak belajar tentang Seni Peran.

Ditambah pula Lenong Mak Comblang ini disutradarai oleh Bang Bedjo Soelaktono yang sudah profesional dibidangnya berasal dari Jakarta dan sebagai Asisten sutradaranya oleh Seniman hebat, Bang Umar Tajuddin, juga dari Jakarta. Si Bu Guru cantik dan hebat inipun bertambah ilmunya.

Mengapa Bu Guru Yenni Satriani kerap dipanggil Ibu Sakai adalah karena puisi yang ditulisnya “Panggil Aku Ibu Sakai” cukup populer setelah beliau membacanya di acara puisi di kota Bintan, Kepulauan Riau.

Dan panggilan Ibu Sakai semakin akrab ketika beliau membaca puisi tersebut di acara Wisata Puisi 3 M ( Mesir, Medinah dan Mekkah ) tahun 2024 yang lalu.

Sepertinya panggilan Ibu Sakai hilang sekejap setelah Bu Guru kita ini memerankan Tokoh bernama Siti sebagai Asisten Rumah Tangga yang genit dan hobbi musik di Lenong Mak Comblang di Dumai tempo hari.

Bagi Bu Guru Yenni sendiri tidak menjadi masalah, malah menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

Bu Guru Yenni Satriani ini adalah seorang Penulis dan Pembaca puisi yang namanya sudah mulai dikenal sejak beliau bergabung di Perkumpulan Rumah Seni Asnur yang disingkat dengan PERRUAS pimpinan Penyair Besar Asrizal Nur.

Banyak penghargaan yang sudah beliau peroleh dalam menulis puisi bahkan pernah memperoleh Anugerah sebagai Kepala Sekolah berprestasi bidang seni oleh Perkumpulan Rumah Seni Asnur tahun 2022.

Dibidang akademik Beliau juga pernah memperoleh Predikat Kepala Sekolah berprestasi tahun 2024.

Beliau menciptakan lagu Mars SMPN 8 Bathin Solapan yang dipimpinnya yang berjudul “Teruslah Melangit Tinggi”,satu-satunya Sekolah yang memiliki lagu Mars di Kabupaten Bengkalis.

Tidak sampai disitu, puisi telah membawa Bu Guru Yenni sampai jauh bahkan sampai ke kota-kota besar di Turky seperti Cappadocia, Ankara, Bursa dan Istanbul.

Sehingga Bu Guru Yenni menuangkan pengalaman berpuisinya lewat buku puisi tunggalnya berjudul ” Puisi Membawa Sampai Jauh”.

Yenni Satriani si Ibu Sakai, si Mpo Siti dan banyak lagi gelar beliau seperti Ibu Sultan karena penampilan yang kadang glamour.

Ibu Pink karena suka berbaju pink dan lain sebagainya adalah sosok yang ramah, baik hati dan setia dalam persahabatan.

Mungkin ini salah satu alasan mengapa Ibu Tantri Subecti sahabat dekat nya mengajak Bu Guru Yenni tampil di salah satu acara bergengsi yang digelarnya yakni Dialog Seni dan Budaya se ASEAN tanggal 11, 12 dan 13 September yang lalu.

Bu Guru Yennipun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan meskipun bermain Lenong adalah yang pertama kalinya baginya.

Alhamdulillah Bu Guru Yenni sukses dalam berlakon dan memukau para penonton yang terdiri dari para Datok-Datok pakar Seni dan budaya dari 5 negara ( Malaysia, Brunei, Singapura, Thailan dan Indonesia sebagai Tuan Rumah).

Disamping menulis puisi, Bu Guru Yenni si Ibu Sakai dan si Mpo Siti juga piawai membuat pantun, gurindam, syair, pantun majelis dan talibun.

Beliau banyak belajar di Perkumpulan Rumah Seni Asnur ( PERRUAS).

Dan beliau sendiri adalah Pimpinan dari PERRUAS Riau.

Sampai hari ini beliau masih aktif menulis bersama teman-teman anggota PERRUAS se Indonesia dan ASEAN.

Saat ini sedang berlangsung penggarapan menulis Pantun Majelis dan Talibun se ASEAN yang akan lounching di bulan Desember 2026 mendatang.

InsyaAllah harapannya akan memperoleh penghargaan MURI sebagai peserta terbanyak menulis Pantun Majelis dan Talibun.

Kembali ke acara Dialog Seni dan Budaya se ASEAN, Bu Guru Yenni banyak-banyak mengucapkan terimakasih kepada teman akrabnya yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Ibu Kanjeng Tantri Subecti.

Bu Guru Yenni terharu dan bangga seorang Bu Tantri mampu menyatukan lima negara dalam acara dialog Seni dan budaya se ASEAN yang digelarnya.

Mampu menghadirkan Pakar Seni dan Seniman besar dari lima negara dan dari berbagai daerah di Indonesia.

Sekali lagi menutup wawancara dengan Bu Guru Yenni yang multi talenta ini dengan suaranya yang khas lagi-lagi beliau mengucapkan terimakasih banyak kepada sahabatnya Tantri Subecti yang telah memberi ruang baginya untuk terus berkarya.

( Dumai, 18092026 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *