Aceh,”matahukum.id – Jangan lupakan sejarah, belajar dari sejarah memahami sejarah adalah ilmu dasar dalam mengelola sebuah negara untuk menuju kesejahteraan dan kemakmuran serta kedaulatan keutuhan sebuah negeri.
Tokoh utama yang memerintahkan pada abad 16 Aceh Darussalam ialah Sultan As-Salatin ‘Alauddin ‘Inayat Syah, tokoh utama tersebut dengan menyandang berbagai gelar terkenal dunia dan istimewa pada masanya.
Sejarah tersebur dqpat ditemukan di dalam Kompleks Makam Paduka Sultan ‘Alauddin Manshur Syah, Bapperis, Banda Aceh dan raja yang mulia lagi agung, Seri Paduka Sultan ‘Alai serta Ad-din Manshur Syah.
Kerajaan Aceh juga pernah di pimpin oleh Sulthanah Aceh” adalah empat penguasa wanita yang memerintah Kesultanan Aceh pada abad ke-17. diangaranya, Sultanah Shafiatuddin (1641–1675) Dikenal sebagai penguasa wanita pertama di Aceh.
Sultanah tersebut ia naik tahta setelah kematian suaminya, Sultan Iskandar Tsani.
Pemerintahannya ditandai oleh konflik internal dan ancaman luar, terutama dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda).
Ia harus menavigasi melalui perbedaan politik dan mempertahankan kedaulatan kerajaan di tengah tantangan ini.
Kemudian, Sultanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675–1678): Ia menggantikan Shafiatuddin dan menjadi penguasa wanita kedua.
Masa pemerintahannya relatif singkat, dan ia harus menghadapi ketegangan yang berlangsung di dalam istana serta tekanan dari kekuatan Eropa.
Lalu, Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678–1688) Penguasa wanita ketiga.
Dan ia terus memimpin Aceh pada masa ketika kerajaan mengalami penurunan pengaruh dan kekuatan karena konflik internal dan penguatan kekuasaan kolonial Eropa.
Begitu juga pada masa, Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688–1699) Ia adalah penguasa wanita terakhir dari keempatnya.
Masa pemerintahannya menandai akhir kepemimpinan wanita di Aceh untuk waktu yang lama.
Pada saat ia memerintah, kekuatan Aceh telah berkurang secara signifikan, dan kesultanan sedang beralih ke periode pengaruh yang berkurang.
Sultana-sultana ini memerintah pada saat Kesultanan Aceh menghadapi tantangan besar, baik secara internal dengan ketidakstabilan politik maupun secara eksternal dengan kedatangan kekuatan kolonial Eropa.
Pemerintahan mereka menjadi catatan penting yang menunjukkan kemampuan wanita untuk memimpin dalam peran yang biasanya didominasi oleh laki-laki, meski dihadapkan dengan berbagai kesulitan.
Disisi lain Bahkan. Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Direktur Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, Direktur Bina SDM Lembaga Pranata Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, S.S., M.SP. Didampingi Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa Aceh), Mizuar Mahdi Al-Asyi, Irdam IM, Brigadir Jenderal TNI Yudi Yulistyanto, M.A., PJ Walikota Banda Aceh, Rektor ISBI dan Tamu lainnya, pada Ahad 12 Januari 2025 berkesempatan meninjau ruang pameran kolaborasi BPK Wil 1 Aceh bersama MAPESA dan PEDIR Museum di Kompleks Gunongan.
Pameran ini dimulai dengan satu tokoh besar di era Kesultanan Lamuri yaitu Maulana Qadhi Shadrul Islam Isma’il yang wafat pada 852 H dan dimakamkan di Bukit Lamreh.
Kemudian Sultan ‘Ali Mughayat Syah, Sultan ‘Alauddin ‘Inayat Syah dan Sultan ‘Ali Ri’ayat Syah yang ketiganya dimakamkan di Kandang Baiturrijal/ Kandang 12 di Gampong Baro, Kota Banda Aceh.
Selanjutnya Sultan ‘Adilullah ibn Munawar Syah, wafat 947 H yang dimakamkan di Kandang Aceh (Kompleks Tuan di Kandang) Gampong Pande, Kota Banda Aceh.
Terakhir disajikan informasi sejarah terkait surat-surat diplomatik tokoh besar pemersatu islam Asia Tenggara, Sri Paduka Sultan Ibrahim Manshur Syah ibn Jahar ‘Alam Syah w.1286 H yang dimakamkan di Kompleks Kadang Meuh, BAPERIS.
Selain display inskripsi dan informasi sejarah tokoh, pameran tersebut juga menampilkan fisik beberapa koleksi manuskrip penting antara lain, Manuskrip Mushaf Al-Qur’an, Manuskrip Mir’atul Mu’min karya Syaikh Syamsyuddin As-Sumatraniy 1016 H Zaman Sultan Iskandar Muda.
Manuskrip Shirat al-Mustaqim 1044-1054 H karya Syaikh Nuruddin Muhammad ibn ‘Ali ibn Hasanji ibn Muhammad Hamid Ar-Raniry.
Manuskrip hadist Hidayatul Habib karya Nuruddin Ar-Raniry 1025 H/1616 M. Manuskrip Nazam ‘Aqidah karya Sayyid Ahmad ibn ‘Ali Az-Zahir Busu 1191 H/1779 M. Dan manuskrip ulama besar Aceh abad 13 H, Syaikh Yusuf ibn Isma’il Geulumpang Minyeuk al-Fadiry (Pidie).
Tidak hanya itu, pameran tersebut juga memperlihatkan Koleksi Numismatik menampilkan mata uang emas/ dirham Kesultanan Sumatra Pasai.
Dirham tokoh-tokoh penting Aceh Darussalam seperti, Dirham Sultan Iskandar Muda bin ‘Ali.
Dirham Sultan Iskandar Tsani, Dirham Sultanah Tajul ‘Alam Shafiyatuddin, Sultanah Nurul ‘Alam Naqiyatuddin, Sultanah ‘Inayat Syah Zakiyyatuddin, dan dirham Sultanah Kamalat Syah Zinatuddin.
Sedangkan mata uang timah (keuh) antara lain. Keuh Bandar Aceh Darussalam, Keuh Jauhar Alam Syah Teluk Samawiy 1229 H, Keuh Mashruf Darussalam dan Keuh Mashruf Daruddunya.
Selanjutnya yang dipajang dalam pemeran kolaborasi ini adalah benda-benda etnografi berupa wadah-wadah seperti Ceurupa, Karaih, Cumboi, Keurandam dan ija bungkoh boh ru yang terbuat dari perak dan emas suasa.
Koleksi lainnya tempat tinta dan qalam, Kande, dan Stempel (Cap) era kesultanan milik para Ulee Balang dan ulama dari abad ke-19 M.
Terakhir ada 30 koleksi senjata tradisional Aceh yang umumnya dipakai dalam masa Perang antara lain, Siwah, Rencong Meupucoek, Rencong Meucugek, Rencong Meukuree, Rencong Pudoi, Kreih Aceh, Bari, Bawar, Sikin Peurawoet, Peurisee, Bude Keumuraih, dan sikin panyang.
Bevitu juga halnya dengan situs inti peninggalan sejarah era kesultanan Islam Lamuri yang berada di bukit Lamreh, gampong Lamreh kecamatan Mesjid Raya, kabupaten Aceh Besar. disana juga terdapat situs pertama dan kedua yaitu makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Isma’il (w. 852 H/1448 M) dan Sirajul Muluk. Tidak jauh dari situs tersebut ditwmukan juga Setelah benteng Inong Balee.
Sejarah Raja-raja dan Sultan juga bisa ditemukan di kompleks makam Malik Zainal ‘Abidin w. 845 H/1442 M. pada batu nisan yang juga memuat inskripsi sabda Rasul, syair serta zakhrafah.
Bergerak kita ke kompleks makam Nina Mahajirin dan Malik Muhammad Syah w. 848 H/1444 M. makam Nizar w. 849 H/1446 M.
Masih banyak Sejarah Raja-raja dan Sultan Aceh Darussalam yang belum diangkat ke permukaan publik diantaranya, kompleks makam Muzhhiruddin. kompleks makam bertarikh wafat 865 H/1461 M dan 866 H/1462 M. kompleks makam Syaikh Zainuddin. kompleks makam Syaikh Zainuddin. kompleks makam Malik ‘Alawuddin w. 822 H/1419 M.
Lompleks makam Sultan Muhammad bin Malik ‘Alawuddin w. 834 H/1431 M dan Amir Qura Khudaijah W. 816 H/1413 M.
Kompleks makam Malik Zaid. kompleks makam Malik Nizar bin Zaid.
Masih juga terdapat sejarah benteng Kuta Luboek dan kompleks makam Sultan Muhammad Syah Lamuri w. 908 H/1503 M. makam bertarikh 801 H/1399 M. kompleks Nisan Makam Sri Lila Meukuta Ade, di Indrapuri, Aceh Besar. kompleks Raja Udah dan kompleks Batu Nisan Kubur.
Syahbandar Bendahara Raja yang Wafat 2 Ramadhan 964 Hijriah (8 Juli 1557 Masehi) Gampong Pande Kecamatan Kuta Raja Kota Banda Aceh dengan mwnampilkan Inskripsi Aceh, Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 56 “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang- orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
نقوش آشية
الفكر والفن في العالم الاستوائي الإسلامي
(مواد معرض النقوش الإسلامية)
Sejarah Masih Bersambung.
Sumber: Tim Mapesa Aceh.













