Kembali ke Pangkuan NKRI, 17 Personel OPM Serahkan Senjata kepada TNI

MADIUN, MATAHUKUM.ID – Kekuatan separatis bersenjata OPM berangsur melemah. Tiga anggota Kodap XV-Ngalum Kupel, di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, dilaporkan menyerahkan diri kepada jajaran TNI Satgas Koops Swasembada berikut sepucuk senjata api, Sabtu (14/02/2026).

Semangat memisahkan diri dari OPM yang dinilainya tidak bermasa depan itu, menyusul 4 rekannya yang lebih dulu mencium Merah Putih, pada 19 Oktober 2025 lalu, termasuk Pangkodap XV-Ngalum Kupel, Lamek Alipky Taplo. Dalam kurun tahun itu juga 10 rekan yang lain turut kembali pulang ke NKRI, hingga sampai saat ini tercatat genap 17 mantan kombatan OPM.

Ketiga mantan OPM yang baru saja menyerahkan diri di wilayah dataran tinggi Papua itu masing-masing PM, SU dan FT. Sebelum berikrar setia kepada NKRI, Pancasila dan UUD 45 lalu mencium Merah Putih, mereka juga menyerahkan sepucuk senjata api pabrikan jenis Engkle Loop.

Mengutip siaran pers yang dilansir Pen Satgas Koops Swasembada, Letda Inf Iqbal Fausan, Minggu (15/02/2026), menyebutkan penyerahan diri ketiganya tak lepas dari perilaku persuasif jajaran Koops Swasembada terhadap para mantan OPM.

“Pendekatan humanis terus kami lakukan kepada anggota dan simpatisan kelompok tersebut (OPM). Hasilnya, tiga mantan anggota OPM termasuk sepucuk senjata api, diserahkannya sukarela kepada negara melalui Koops Swasembada. Hingga saat ini tercatat 17 mantan OPM yang kembali ke NKRI,” kata Letda Inf Iqbal Fausan.

Para mantan anggota OPM itu pada akhirnya memilih kembali kepada pangkuan Ibu Pertiwi, beralasan makan tidak jenak, tidur tidak nyenyak dan meniti hidup yang tidak lunak. Mereka meninggalkan dunia konflik, untuk menata masa depan baru yang lebih jelas dan terang, membaur bersama-sama bangsa Indonesia lainnya di Papua.

Sementara Pangkoops Swasembada, Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito, mengharapkan langkah ini bisa menjadi titik balik bagi keamanan di wilayah Kiwirok dan sekitarnya.

“Besar harapan kami agar masyarakat yang masih tergabung dalam kelompok OPM, segera menghentikan peperangan dan memilih hidup damai. Bergandengan tangan dengan bangsa Indonesia lainnya, merajut hidup tenang, aman dan nyaman untuk memajukan wilayah Kiwirok dan Papua,” harap Novi Rubadi.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti pendekatan humanis dan komunikasi positif yang intens, mampu membuka pintu rekonsiliasi. Sekaligus memperkuat harapan terciptanya situasi aman dan kondusif di wilayah Pegunungan Bintang.

(yl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *